ISIS Merajalela, Perbatasan NKRI Tegang. Kapal Perang Bermanuver, Pesawat Intai Pantau Pergerakan, Pasukan Darat Bersenjata Siaga.




Angkatan perang Indonesia bersikap serius menyikapi konflik yang terjadi di Marawi, Filipina. TNI menyatakan telah bersiaga di wilayah yang berbatasan dengan negara-negara tetangga.
Komandan Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) XIII/Tarakan Laksamana Pertama TNI Ferial Fachroni menyebutkan, ada empat kapal perang Indonesia dengan senjata lengkap sudah berpatroli di perbatasan. Ini masih ditambah Kapal Angkatan Laut (KAL) dan kapal Patroli Keamanan Laut (Patkamla) dari sejumlah satuan di bawah Lantamal XIII/Tarakan.
“Di antaranya KRI Ki Hajar Dewantara dan KRI Teluk Sangkulirang. Kemudian unsur-unsur KAL maupun Patkamla dari Nunukan, Tarakan dan Bunyu juga,” ujarnya sebagaimana dikutip dari Berau Post (Jawa Pos Group), Minggu (4/6). 
Kapal-kapal perang tersebut, lanjutnya, sebenarnya sudah siaga sejak beberapa bulan lalu dengan tugas rutin menjaga perbatasan melalui operasi Ambalat dan sebagainya. Namun, untuk momen ini armada tersebut diinstruksikan lebih giat meningkatkan pengawasan di perbatasan. 
Selain di laut, pihaknya sudah menginstruksikan kepada Lanal Nunukan untuk melakukan pengawasan di darat dengan mewaspadai pintu keluar masuk warga di Nunukan.
Menurutnya, semua ini untuk mengantisipasi masuknya kelompok pemberontak Filipina yang terdesak dan melarikan diri ke sejumlah negara terdekat, termasuk Indonesia. Atau juga mewaspadai gelombang pengungsi Filipina ke Tanah Air.
Namun, Ferial Fachroni membantah sudah ada instruksi pusat untuk status siaga satu di perbatasan. Menurutnya, kondisi yang terjadi saat ini belum mendesak untuk menetapkan status. Hanya meningkatkan kewaspadaan di perbatasan.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, jajaran Pangkalan Angkatan Udara (Lanud) Tarakan juga mulai meningkatkan pengawasan terhadap jalur keluar masuk penumpang di Bandara Juwata.
Seperti pantauan media ini, Kamis (1/6), sejumlah anggota Lanud Tarakan lengkap dengan senjata mengawasi penumpang melalui pintu keberangkatan dan kedatangan. Personel lainnya juga diinstruksikan berpatroli di sekitar terminal bandara. Mereka bertugas secara bergantian dalam waktu 24 jam.
“Dengan perintah dari Pangkoopsau II, kami meningkatkan jam untuk patroli maupun pemeriksaan. Yang tadinya hanya 18 jam, sekarang 24 jam secara bergantian atau berkesinambungan,” ungkap Komandan Lanud Tarakan Kolonel Pnb Didik Kristiyanto.
Sebanyak 33 personel Brimob juga disiagakan di wilayah perbatasan, terutama akses darat untuk mengantisipasi adanya kelompok-kelompok yang dapat mengganggu keamanan dan ketertiban.
Karena seperti dikatakan Kasubbag Humas Polres Nunukan Iptu M Karyadi, tidak menutup kemungkinan kelompok pemberontak di Filipina masuk ke wilayah perbatasan.
“Untuk itu pimpinan Polri memerintahkan mengambil langkah menempatkan pasukan Brimob di pintu perbatasan yang merupakan keluar masuknya orang dan barang,” ujarnya. (sumber)
Silahkan KLIK LIKE :




Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.