Ulah Pendukung Ahok Terindikasi Makar. TNI Diminta Turunkan Pasukan Tempur Terbaik






Aksi protes pasca vonis dua tahun terhadap terpidana penistaan agama Islam, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terlihat semakin massif.
Para pendukung Ahok atau Ahoker pun tak henti-hentinya menggelar unjuk rasa mulai di Rumah Tahanan (Rutan) Cipinang, Jakarta Timur hingga ke Mako Brmob, Depok dengan membawa tuntutan agar suami Veronica Tan itu dibebaskan.
Selain memblokade ruas jalan, para Ahokers juga sempat berbuat anarkis dengan melemparkan botol air mineral serta berupaya mendobrak pagar Rutan.
Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) DKI Jakarta, M Rico Sinaga menilai, aksi Ahoker tersebut merukan tindakan inkonstitusional.
Kata Rico, sebagai kelompok yang selama ini mengaku paling modern dan paling domokrasi justru bersikap barbar dan melanggar undang-undang. Khususnya terkait mekanisme unjuk rasa. Apalagi aksi Ahokers itu digelar hingga dini hari.
"Harusnya Kapolri bertindak tegas atas pelanggaran yang dilakukan para Ahokers. Polri jangan hanya menonton, sedangkan mereka terus berbuat seenaknya. Orang lain disuruh mamatuhi konstitusi dan hukum, tapi giliran keputusannya tidak menguntungkan tuannya, malah bersikap barbar seperti orang tak pernah sekolah SD," kata Rico saat dihubungi, Rabu (10/5/2017).
Selain itu, Polri juga disarankan bersikap tegas dan menindak aksi unjuk rasa apapun jika tidak mengantongi izin.
"Kalau Polri tidak berani bertindak tegas, Panglima TNI saya harap bisa turun tangan mengamankan demi tetap tegaknya NKRI," ujar Rico.

Sementara itu, seruan mengejutkan malah datang dari masyarakat Sulawesi Utara (Sulut). Sejak Rabu (10/5/2017) lalu, mereka ramai menyuarakan kemerdekaan dari Negara Republik Indonesia (NKRI). Bahkan, dari amatan di media sosial, ada seruan referendum Minahasa Merdeka.

Seperti pesan berantai yang disiarkan, oleh akun bernama Ancient of Minahasa memposting ajakan menghadiri referendum yang berbunyi: #UpdateGerakanMinahasaRaya 100% aksi Referendum Minahasa Merdeka dilaksanakan pada : Hari : Senin, 15 Mei 2017; Jam : 10.00 Wita; Tempat : Kantor Gubernur Propinsi Sulawesi Utara; Seragam : Hitam-Merah; Tuntutan : Referendum Minahasa Merdeka… SEKARANG WAKTUNYA MINAHASA TEGAS !; ***. Info ini sekaligus undangan buat rakyat bangsa Minahasa. Ayo kita buktikan ! Bangsa kita bukan bangsa PENGECUT !.,” tulis dalam postingan.

Bahkan postingan disertai dengan sejumlah gambar bendera yang diyakini sebagai bendera Minahasa Raya yang hendak dideklarasikan. Postingan ini meluas di mana-mana. Banyak warga menyambut postingan ini dengan membagikannya.


 

Seruan “Minahasa Merdeka” ini salah satu pemicunya hukuman dua tahun kepada Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang dihukum karena menistakan agama. Bahkan salah satu media di Sulut mengangkat berita ini sebagai berita utamanya.
Seperti Radar Manado di covernya edisi Kamis (11/5/2017) mengangkat judul: “Tahan Ahok atau Minahasa Merdeka”. Berita mengangkat aksi masyarakat Sulut memasang lilin memberi dukungan kepada Ahok.

Sebelumnya, Wakil Gubernur Sulut, Steven OE Kandouw meminta masyarakatnya tidak berlebihan menujukan aksi simpatik kepada Ahok. “Saya juga bersimpati pada pak Ahok, tapi saya imbau masyarakat Sulut yang berlebihan dalam menunjukkan simpatinya,” imbau Steven seperti rilis Humas Pemprov Sulut, Kamis (11/5/2017) malam.
Menurut mantan Ketua DPRD Sulut ini, aksi simpati kepada kepada Ahok yang dihukum boleh-boleh saja. “Tapi sebagai orang Sulut kita harus tetap menjaga kebersamaan, jangan sampai simpati yang berlebihan bisa merusak kerukunan dan kedamaian yang selama ini menjadi ciri khas daerah kita,” pesannya.

Silahkan KLIK LIKE :




Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.