Sudah Curi Harta Karun di Laut, China Juga Ingin Kuasai Tambang Emas Indonesia






Kawasan perairan Indonesia berpotensi menyimpan banyak harta karun karena lalu lintas maritim padat di masa lampau. Lebih dari 10.000 bangkai kapal yang menyimpan peninggalan bersejarah diperkirakan masih berada di dasar laut.

Kapal kapal yang tenggelam itu umumnya membawa barang berharga yang bernilai tinggi. Barang yang tenggelam tersebut dikategorikan sebagai Benda Muatan Kapal Tenggelam (BMKT).

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan, Sjarief Widjaja, mengatakan BMKT tersebar di sejumlah titik perairan di Indonesia.

"Seperti Kepulauan Natuna, Pulau Anambas, Pantai Timur Sumatera, dan Pantai Utara Jawa banyak titik BMKT," ujar Sjarief di Gedung Mina Bahari II, Jakarta.


Terkait hal tersebut, Sjarief mengatakan secepatnya akan melakukan pendataan kembali titik-titik BMKT yang banyak diincar penjarah. "Padahal, pemerintah sudah melakukan moratorium berupa penghentian sementara izin pengangkatan Benda Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) oleh swasta maupun asing. Namun masih saja ada yang melakukan kegiatan illegal makanya kita akan data ulang," kata Sjarief.

Terbaru, Kementerian Kelautan dan Perikanan menangkap kapal berbendara China, MV Chuan Hong 68 yang mencuri harta karun bawah laut Indonesia. Apa saja fakta di balik perampokan oleh kapal China ini? Berikut merdeka.com akan merangkumnya untuk pembaca.
Kementerian Kelautan dan Perikanan menangkap kapal berbendara China, MV Chuan Hong 68 yang mencuri harta karun bawah laut Indonesia. Kapal ini diketahui mengoperasikan crane dan melakukan pengerukan bangkai kapal karam bawah laut di sekitar Kepulauan Riau, Laut Natuna pada 20 April 2017 silam.

Dari hasil pemeriksaan, awak kapal Chuan Hong 68 berjumlah 20 orang dan sudah dibawa menuju Pos TNI Al di Pulau Letung oleh Patroli Keamanan Laut.
Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti mengatakan, kapal ini ditemukan di wilayah perairan Panggararang Johor Timur, Malaysia setelah sempat kabur atau melarikan diri.

"Penegakan hukum harus diupayakan, dijalankan di situlah kita harus menjaga, menjaga di sini juga bukan jaga ikan, air laut, tapi semua yang ada di dalam laut, seperti situs, pariwisata harus di jaga," ujar Menteri Susi.

Dari hasil investigasi, kapal ini sempat hilang pada 22 April 2017. Kemudian, Patroli AL Kawasan Barat berkoordinasi dengan Aparat Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM) dan terus melakukan pencarian.

Akhirnya, kapal MV Chuan Hong 68 ditemukan Wilayah Malaysia pada tanggal 28 April 2017 di perairan Penggararang Johor Timur, Malaysia.
Menurut Menteri Susi, kejadian semacam ini bukan pertama kali di Indonesia. Banyak kapal asing yang ingin mencuri harta karun bawah laut Indonesia. 

"Ini terjadi di mana-mana. Ada yang pakai kapal dalam negeri untuk perburuan harta karun," ujar Menteri Susi.

Modus operandi yang dilakukan Chuan Hong 68 di duga berkaitan dengan pengangkatan bangkai kapal yang tenggelam di sekitar Laut Natuna dan Laut Cina Selatan, di antaranya Swedish Supertanker, Seven Skies (yang tenggelam pada tahun 1969), kapal penumpang Jepang Katori Maru. (merdeka)
Silahkan KLIK LIKE :




Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.