Setelah Rohingya, Militer Myanmar 'Habisi' Etnis Kokang, 30 Orang Tewas





Bentrokan hebat terjadi antara militer Myanmar dan pemberontak etnis minoritas berbahasa China, Kokang, di Kota Laukkai beberapa waktu yang lalu. Akibatnya, ribuan orang menyeberang ke China.

"Ribuan orang telah menyeberang ke China," ujar seorang pejabat pemerintah China yang enggan dikutip identitasnya pada awal Maret lalu.

Bentrokan antara militer Myanmar dan etnis Kokang yang tergabung dalam Myanmar National Democratic Alliance Army (MNDAA) ini memang terjadi di kota dekat perbatasan dengan China.

Pejabat Palang merah Myanmar di Kota Laukkai, Saw Shwe Myint, mengatakan bahwa kini di sisi perbatasan Myanmar, sekitar 300 orang tengah berupaya melarikan diri ke Kota Chinshwehaw yang berdekatan dengan wilayah itu.

Para pengungsi yang tinggal di kamp penampungan sebagian besar merupakan penduduk lokal dan buruh migran yang berasal dari luar wilayah Laukkai.

"Meski tak terdengar ada bentrokan lagi saat ini, saya mendengar ada sejumlah tembakan tadi pagi di wilayah ini," ujarnya.

Sementara itu, diberitakan Reuters, salah satu pegawai Golden Star Hotel di Nan San, sebuah kota di China yang langsung berbatasan dengan Myanmar, mengatakan gelombang pendatang meningkat drastis.

Dia menuturkan, lalu lintas langsung menjadi kacau akibat banyaknya pendatang dan pengungsi yang masuk ke kota tersebut.

"Ada begitu banyak orang di sini. Ribuan pengungsi di sini terlihat ketakutan. Sebagian dari mereka membawa banyak koper dan barang-barang, sementara yang lainnya hanya membawa beberapa pakaian seadanya," katanya.

Pemilik hotel yang menamai dirinya sebagai Yang mengatakan, yang ia dan warga bisa lakukan hanyalah menolong para pengungsi tersebut. Meskipun begitu, para warga di Han San, tuturnya, mulai mengkhawatirkan keamanan mereka sendiri.

"Yang bisa kami lakukan di sini hanya memberi mereka bantuan dan makanan. Orang China di sini mulai khawatir tentang keselamatan mereka," tutur Yang.

Yang membayangkan, kejadian ini sama seperti yang pernah terjadi pada 2015 lalu, di mana puluhan ribu orang melarikan diri dari bentrokan yang terjadi antara MNDAA dan aparat keamanan negara itu.

Menanggapi konflik ini, China menyerukan gencatan senjata dilakukan sesegera mungkin. Mereka juga mendesak pemerintah Myanmar untuk menyelesaikan konflik tersebut secara damai.

Selain Kokang, Myanmar juga masih menghadapi pemberontakan dari sejumlah etnis minoritas lain, termasuk Rohingya di perbatasan dengan Bangladesh. (cnn)
Silahkan KLIK LIKE :




Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.