Benar Kata Gus Dur, Sidang Anggota Dewan Memang Mirip Arena Bermain Anak TK




Kericuhan hebat mewarnai Sidang Paripurna DPD RI yang digelar hari ini (Senin, 3/4). Sidang kian memanas saat Sekjen DPD, Sudarsono Hardjosoekarto hendak membacakan putusan Mahkamah Agung (MA) terkait masa jabatan pimpinan lembaga wakil rakyat tersebut.
“Tidak perlu dibacakan!” teriak seorang peserta sidang.
Senator lainnya yang ingin sebaliknya sontan ngotot. Ruang sidang pun berubah riuh karena silang pendapat.
Bahkan ada beberapa anggota interupsi sambil berdiri.
“Harus dibacakan,” timpal anggota lain.
Suara kemudian bersahut-sahutan lewat pengeras suara di masing-masing meja rapat.
Sempat terdengar suara adzan yang mengalun dari pengeras suara dilanjutkan dengan baca-bacaan istigfar.
Putusan MA perkara Nomor 38 P/HUM/2016 dan perkara Nomor 20 P HUM/2017 yang diperdebatkan itu mengenai pembatalan tata tertib tahun 2016 dan 2017.
Ini berarti lembaga senator itu harus kembali pada tatib 2014 yang menyatakan masa jabatan pimpinan lima tahun, sama seperti anggota.
Sebelum rapat dimulai, suasana sidang sudah ricuh. Berawal dari interupsi yang dilontarkan anggota DPD asal Maluku Utara, Basri Salama.
Menurut dia, seharusnya ada penyerahan penanggung jawab sidang dari pimpinan DPD kepada pimpinan sementara yang dibahas dalam Panitia Musyawarah (Panmus).
Sebab, masa jabatan dua pimpinan sidang, yakni Farouk Muhammad dan GKR Hemas dianggap sudah berakhir jika mengikuti tatib masa jabatan 2,5 tahun.
Anggota DPD asal Jawa Timur, Ahmad Nawardi berpendapat bahwa Panmus mengamanatkan pimpinan sementara untuk memimpin rapat.
Namun hal itu dibantah Farouk.
Nawardi yang maju ke meja pimpinan sidang sempat adu mulut dengan Farouk.
“Kami di sini diamanatkan oleh rapat paripurna kemarin,” tegas Farouk.
Keributan antar anggota dewan memang pernah disindir mantan Presiden RI Alm Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Menurutnya, anggota dewan belum memiliki kedewasaan untuk berpolitik. Ini ditunjukan dengan lebih senangnya antar kubu berseteru ketimbang langsung bekerja untuk rakyat.

Sentilan Gus Dur tentang anggota dewan yang seperti Taman Kanak-kanak memang tampak belum berubah. Bahkan terkesan lebih parah. 
Silahkan KLIK LIKE :




Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.