Histori: 144 Tahun Lalu, Ribuan Pasukan Belanda Serang Aceh. Ini Sejarahnya…




Hari ini, tepat 144 tahun lalu, Belanda memerintahkan maklumat perang terhadap Kesultanan Aceh. Padahal wilayah itu merupakan negeri yang berdaulat di Sumatera.
Ribuan tentara dikirim. Rakyat Aceh melawan. Perang pun berlangsung hingga 31 tahun, salah satu perang terlama dalam sejarah dunia.
Jenderal Frederik Nicolass Nieuwenhuijzen murka pada Kesultanan Aceh yang tak mau tunduk kepada Belanda. Wakil Presiden Hindia Belanda itu lalu mengirim surat ajakan perundingan ke pemimpin Kerajaan Aceh Sultan Alaidin Mahmudsyah, pada 22 Maret 1873.
Jenderal Nieuwenhuijzen meminta penghentian hubungan diplomatik dengan Kesultanan Aceh dan menawarkan perundingan baru antara Aceh dengan pemerintah kolonial.
Pada 2 November 1871, Inggris pernah membuat kesepakatan dengan Kerajaan Belanda yang disebut sebagai perjanjian Sumatera. Isinya adalah Kerajaan Britania Raya tidak mengajukan keberatan atas perluasan dominasi Belanda terhadap Pulau Sumatera dan membatalkan kesepakatan awal di Perjanjian London 1824.
Kedua, perdagangan dan pelayaran Inggris atas Kesultanan Siak, Riau dapat dilakukan. Begitu pula pada semua kesultanan di Sumatera yang menjadi tanggung jawab Belanda.
Perjanjian itu melatarbelakangi nafsu besar pemerintah kolonial untuk memperluas tanah jajahannya di Sumatera. Target Belanda adalah menaklukkan Kerajaan Aceh. Padahal Belanda dan Inggris telah mengakui Aceh sebagai sebuah negara merdeka dan berdaulat.
“Padahal Aceh sebuah kerajaan pertama yang mengakui kedaulatan Belanda saat mereka dilanda perang. Tapi justru Belanda mengingkari dan tidak mengakui kerajaan Aceh,” kata sejarawan Aceh, Husaini Ibrahim di Banda Aceh, Jumat 24 Maret 2017.
Akibat perjanjian itu, Sultan Alaidin Mahmudsyah langsung melakukan hubungan diplomatik dengan Konsulat Amerika Serikat, Kerajaan Italia dan Kesultanan Turki Usmaniyah di Singapura. Belanda pun terusik.



Setelah surat pertama ditolak, Jenderal Nieuwenhuijzen kembali mengirim utusannya untuk memberi surat kedua ke sultan Aceh. Isinya adalah luapan kekecewaan sang jenderal dan menuding Aceh tidak bersahabat dengan pihaknya. Belanda pun mengancam akan menyerang Aceh.
Sebagai pewaris darah pejuang dari sultan sebelum dirinya, Alaidin Mahmudsyah pantang tunduk ke lawan. Ia menyambut ancaman Jenderal Nieuwenhuijzen dengan mengeluarkan maklumat kepada masyarakat Aceh bersedia perang melawan Belanda.
Hubungan Aceh dan Belanda yang sudah berjalan baik sejak abad ke-16 kini memanas. Sultan Alauddin Riayat Syah lalu mengutus tiga duta besar Kerajaan Aceh yang dipimpin Tuanku Abdul Hamid untuk menjalin hubungan diplomatik lagi dengan Belanda.
Abdul Hamid bertemu Pangeran Maurits dari Kerajaan Belanda di Middelburg, Ibu Kota Provinsi Zeeland di Belanda pada Agustus 1602. Kunjungan politik itu pertama kalinya dilakukan antara Asia Tenggara dengan Eropa.
Karena cuaca yang dingin, Abdul Hamid lalu sakit dan meninggal dunia di Belanda. Jasadnya dimakamkan di pekarangan gereja, Zeeland. Pada 1940, makam itu hilang tanpa jejak akibat terjangan banjir. Belanda pun membangun prasasti untuk mengenang Duta Besar Kesultanan Aceh itu pada 1978.
Agresi Militer
Usai upaya perundingan gagal, Belanda akhirnya mengeluarkan maklumat perang terhadap Aceh, pada 26 Maret 1873. Parlemen Belanda sebenarnya menolak keras upaya agresi militer ke Aceh karena hubungan kedua negara sejak dulu cukup baik bahkan sejak Sultan Alaudin Riayat Syah memimpin Aceh pada 1589-1604 Masehi.
Belanda mengirim tiga bataliyon tempur infanteri ke Aceh. Pengerahan pasukan darat turut melibatkan 168 opsir dan 3.198 serdadu. Jumlah itu belum termasuk seratusan kuda perang, 1.000 orang yang dihukum Belanda, ratusan perempuan, hingga buruh. Angka itu masih pasukan di darat. Belum lagi empat kapal perang lengkap dengan ratusan serdadu dan peralatan tempur semacam meriam dan mortir.
Belanda mengutus seorang jenderal untuk memimpin langsung agresi pertama itu yakni Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Kohler. Pasukan Belanda tiba di Aceh pada 8 April 1873. Perang hebat pun pecah di Pante Ceureumen, Ulee Lheu, Banda Aceh.
Pasukan Belanda lalu merengsek ke Masjid Raya Baiturrahman dan berupaya merebut masjid yang dibangun sejak masa Sultan Iskandar Muda pada abad 16 Masehi itu. Tapi, gagal. Rakyat Aceh mati-matian mempertahankannya.

Pertempuran sengit meletus di sana. Mayjen Kohler akhirnya tewas ditangan penembak jitu pasukan Aceh yang siaga di balik rawa dekat Masjid Raya Baiturrahman. Kohler tewas di bawah pohon ketapang sebelah utara Masjid Baiturrahman. Di lokasi kematiannya itu, sudah dibangun prasasti. (okz)
Silahkan KLIK LIKE :




Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.