Brak...Bruk. Dasar Durhaka, Ibu Kandung Dihajar Sampai Berdarah-darah Karena Jual BH Bekas




Tindakan Yulianingsih (50) benar-benar biadab. Ia layak dilabeli predikat sebagai anak durhaka. Warga Kelurahan Tanjung Laut, Bontang itu tega menganiaya sang ibu Paerah (87), Kamis (23/3) dini hari.
Alasan Yulianingsih menghajar Paerah juga sangat sederhana. Dia merasa kesal karena Paerah sering meminta makanan kepada tetangga.
Yulianingsih makin kesal karena Paerah menjual BH usang miliknya. Penganiayaan yang dilakukan Yulianingsih membuat tetangga berdatangan.
Salah satu warga yang enggan namanya ditulis mengatakan, Yulianingsih menampar Paerah. Tak hanya itu, Yulianingsih juga mencubit wanita yang sudah melahirkannya tersebut.
“Saya kaget, ada apa ribut-ribut di luar, saya lihat si anak itu memukul-mukul ibunya sendiri yang sudah jompo sambil dicubitin dan dihajar pakai tas ransel. Ya Allah. Saya sampai sesak napas, melabrak anaknya agar tidak berlaku seperti itu ke ibu kandungnya sendiri,” ujarnya, Jumat (24/3).
Penderitaan Paerah tak berhenti sampai di situ. Dia juga dikunci di rumah. Darah terlihat jelas mengalir dari kepalanya.
Kabar kekerasan terhadap Paerah sampai ke Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) Dinas Sosial.
Dua petugas LK3 Suyanti dan Intan didampingi Ketua RT 2 Sahabuddin bergegas menjenguk Paerah.
Rombongan baru bisa bertemu korban pada pukul 12:30 Wita ketika Yulianingsih pulang ke rumah.
Yulianingsih langsung membela diri. Dia beralibi mengunci ibunya karena khawatir Paerah akan lari dan keluar rumah.
“Coba, siapa yang nggak malu lihat ibunya jual BH ke orang lain? Saya jengkel sekali, saya tonjok-tonjok kepalanya,” ujar Yulianingsih.
Yulianingsih mengaku sering membelikan makanan untuk ibunya, tetapi jarang dimakan.
“Capek aku belikan makanan! Aku sabar, tapi ngga dimakan, nggak kelaparan di sini, di sini banyak makanan, siapa bilang embah (Paerah) kelaparan? Nih ada bubur juga nggak dimakan, ada tape, ada pisang, ada roti, ada donat, ada bakso,” ujarnya.
Sementara itu, Paerah mengaku ingin pulang ke Surabaya.
Dia ingin hidup tenang di rumah anaknya yang lain di Kota Pahlawan. 
“Saya dikira kayak orang gila, padahal saya nggak gila, anak saya yang gila,” kata Paerah.
Terpisah, Suyanti mengatakan, LK3 akan melakukan pendampingan.
“Dan kami akan lakukan komunikasi dengan pihak keluarga, apakah ada semacam rembuk keluarga, semua dari persetujuan keluarga, solusinya apakah masih mau merawat nenek, ataukah dibawa ke panti,” kata Suyanti. (jpnn)
Silahkan KLIK LIKE :




Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.