Asia Timur Darurat Perang, China-Jepang Bertikai Soal Taiwan. Kapal Induk Liaoning Siaga



China begitu marah atas Jepang. Karena salah seorang menterinya berkunjung ke Taiwan pada pekan lalu. Kunjungan itu dinilai bisa merusak hubungan Beijing dengan Tokyo.
Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang mengatakan Wakil Menteri Jiro Akama pergi ke Taiwan untuk menghadiri acara promosi pariwisata dalam jabatan resminya, berangkat pada Jumat dan pulang pada hari berikutnya.
Media di Jepang melaporkan bahwa Akama adalah pejabat pemerintahan tertinggi secara resmi mengunjungi Taiwan sejak Jepang memutuskan hubungan diplomatik dengan Taipei pada 1972 dan membuka hubungan dengan Beijing.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying mengatakan kunjungan itu secara jelas berlawanan dengan janji Jepang, yang hanya memiliki pertukaran hubungan tingkat daerah dan bukan pemerintahan dengan Taiwan, yang dianggap China sebagai provinsi pecahannya.
"China sudah pasti menentang hal tersebut dan kami bersungguh-sungguh mengirimkan utusan ke Jepang," kata Hua dalam pertemuan harian dengan media.
Jepang mengatakan menghargai janjinya kepada Taiwan namun tindakan tersebut tetap dipandang provokatif, kata Hua menambahkan.
"Hal ini menyebabkan gangguan serius pada peningkatan hubungan Sino-Jepang," katanya menegaskan.
Pasukan Nasionalis, yang kalah, melarikan diri ke Taiwan pada tahun 1949 di akhir perang sipil dengan kelompok Komunis. China tidak pernah meninggalkan penggunaan kekuatan bersenjata untuk mengembalikan Taiwan di bawah kendalinya.
Taiwan menjadi pusat kepentingan China yang tidak bisa disaingi dan Jepang harus menyadari pentingnya hal tersebut dan berhenti menjadi pihak "bermuka dua", serta tidak lebih jauh melangkah ke arah yang salah, tutur Hua.
Penyiar NHK menayangkan Akama tiba di Bandara Taipei, mengatakan kepada penyiar bahwa tidak ada perubahan pada hubungan Jepang-China maupun Jepang-Taiwan.
China mengekspresikan ketidakpuasan pada bulan Desember 2016 setelah kedutaan defacto Jepang di Taiwan mengatakan akan mengubah namanya dengan memasukan nama "Taiwan".
Jepang, seperti layaknya kebanyakan negara lain di dunia, hanya memiliki hubungan informal dengan Taiwan sementara memiliki hubungan diplomatik dengan Beijing.
Beijing telah berulang kali mendesak Jepang untuk menunjukan penyesalan terhadap kekejaman pada masa Perang Dunia II dan kedua belah pihak memiliki masalah sengketa di Laut China Timur yang telah lama terjadi.
Bagaimana pun, pemerintahan Jepang di Taiwan pada 1895-1945 dipandang membawa kebaikan pada perkembangan pulau tersebut, tidak seperti penilaian kepada Jepang pada bagian lain di Asia, terutama di China dan Korea, yang kerap berpandangan buruk terhadap Jepang, demikian Reuters.
Silahkan KLIK LIKE :




Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.