Takut Taliban, Aung San Suu Kyi Minta Bantuan Negara Tetangga





Pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, akhirnya buka suara soal konflik yang tengah melanda negaranya, di tengah kecaman internasional soal gelombang kekerasan militer terhadap etnis Rohingya di negara bagian Rakhine. Suu Kyi menyerukan "perdamaian dan rekonsiliasi nasional" meski tak sekalipun menyinggung soal penderitaan yang diterima etnis Rohingya di negaranya.

Dalam kunjungannya ke Singapura pada Rabu (30/11), peraih penghargaan Nobel Perdamaian itu juga tidak menyebutkan berbagai kekerasan yang terjadi di Rakhine, yang menurut laporan media sudah menewaskan setidaknya 86 orang.

Alih-alih menyinggung Rohingya, Suu Kyi hanya menyerukan bawa stablitas negaranya diperlukan untuk menarik lebih banyak investor.

"Saya tidak akan menutupi fakta bahwa negara kami sedang menghadapi banyak tantangan. Tapi kami tidak takut terhadap tantangan ini, karena kami percaya bahwa kami memiliki teman-teman yang baik yang akan memahami dan membantu kami mengatasinya," ujar Suu Kyi pada jamuan makan malam yang digelar Perdana Menteri Lee Hsien Loong di Istana, dikutip dari Channel NewsAsia.

Ucapan Aung San Suu Kyi ini menyiratkan ketakutan setelah gerilyawan Muslim dibantu Taliban mulai melawan kekejaman biksu dan tentara Myanmar.

PBB melaporkan bahwa 30 ribu warga Rohingya terpaksa meninggalkan rumah mereka di Myanmar dan mencoba melarikan diri ke Bangladesh, menyusul serangkaian aksi kekerasan militer di Rakhine sejak awal Oktober lalu.

Menurut berbagai laporan media, militer melakukan pembunuhan, penyiksaan dan di beberapa kasus, pemerkosaan di distrik Maungdaw, yang menjadi pusat konflik dan kini terisolasi itu.

Suu Kyi sebagai tokoh demokrasi Myanmar mendapatkan kecaman dari publik internasional karena sempat bungkam selama hampir dua bulan dan tidak memaparkan langkah konkret untuk mengatasi konflik tersebut.

Bungkamnya Suu Kyi telah memicu aksi unjuk rasa di negara ASEAN dengan mayoritas penduduk Muslim, seperti Indonesia dan Malaysia. Suu Kyi sebenarnya dijadwalkan bertandang ke Indonesia setelah mengunjungi Singapura, namun rencana itu ditunda. Pihak Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta menampik penundaan itu karena aksi demonstrasi dan ancaman bom di kantor Kedubes. (CNN)
Silahkan KLIK LIKE :




2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.