Pesawat Pemadam Kebakaran Raksasa Amerika Datang, Wali Kota Haifa : "Hanya Tuhan yang Mampu Padamkan Api"




Pesawat pemadam kebakaran raksasa Amerika Serikat (AS), Supertanker Boeing 747, telah mendarat di Israel pada Jumat malam untuk membantu memadamkan kebakaran yang mengamuk di sejumlah wilayah di negara itu. Kebakaran melanda wilayah utara dan tengah Israel sejak Selasa lalu.

Supertanker AS selama ini diklaim sebagai pesawat pemadam kebakaran terbesar di dunia. Pesawat in mampu menangkut hingga 74 ton air.

Hingga semalam, Israel masih berjuang memadamkan kebakaran di Beit Meir dan Maale Hahamisha di bukit Yerusalem. Kebakaran yang terus meluas juga masih melanda wilayah Haifa, wilayah Israel utara.

Selain AS, Palestina, Mesir, Yordania, Azerbaijan, Yunani, Siprus, Kroasia, Turki dan Rusia juga telah ikut membantu memadamkan kebakaran di Israel. AS tak hanya mengirim Supertanker, tapi juga mengirim 50 petugas pemadan kebakaran ke Israel.

Seorang juru bicara untuk Departemen Pemadam Kebakaran Haifa, Uri Chibotaro, mengatakan bahwa mereka memiliki bukti bahwa kebakaran di Haifa merupakan tindakan pembakaran. Berbicara kepada Channel 2, Chibotaro mengatakan ada bukti video yang menunjukkan penyebab kebakaran.

Menteri Keuangan Israel Moshe Kahlon (Kulanu) mengatakan kepada Radio Israel bahwa musibah di Haifa telah menyebabkan kerusakan yang luas .”(Ini) tindakan yang disengaja dari pembakaran,” katanya, yang dikutip Sabtu (26/11/2016).

Sebelumnya, Menteri Keamanan Publik Israel Gilad Erdan mengatakan bahwa hasil investigasi di kota utara Zichron Ya'akov menyimpulkan bahwa kebakaran itu disebabkan oleh pelaku pembakaran.

Polisi melaporkan bahwa total 12 orang telah diselidiki atas tuduhan terlibat pembakaran dan melakukan hasutan. Erdan menambahkan orang-orang yang diselidiki telah bertambah.

Ditanya bagaimana dan berapa lama Haifa akan melawan kebakaran hebat, Wali Kota Yona Yahav menjawab, "Pertanyaan itu harusnya Anda tanyakan kepada Tuhan. Hanya Dia yang sanggup memadamkan api ini." Demikian seperti dikutip New York Times, Jumat (25/11/2016).

(sindo)
Silahkan KLIK LIKE :




Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.